Bg

Berita - IAIN Surakarta

Workshop Review Pedoman BKD oleh LPM IAIN Surakarta

4 September 2019

Lembaga Penjaminan Mutu IAIN Surakarta menyelenggarakan worshop review pedoman BKD. Acara ini dihadiri oleh para assessor di lingkungan IAIN Surakarta. Wakil rektor bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan, Dr. H. Muhammad Munadi, S.Pd., M.Pd hadir sebagai perwakilan institut.

Worshop Review Pedoman BKD diselenggarakan di ruang senat IAIN Surakarta dan dibuka dengan sambutan dari Ketua LPM IAIN Surakarta, Dr. Muh Nashirudin, M.A., M.Ag. Dalam sambutannya, Dr. Nashirudin mengungkapkan bahwa Workshop Review Pedoman BKD ini merupakan tindak lanjut dari acara yang diselenggarakan LPM pada 8-9 Juli 2019 di Hotel Attaya, Boyolali. Lebih lanjut, Dr. Muh Nashirudin, M.A., M.Ag., mengungkapkan bahwa acara ini diselenggarakan untuk memperbaiki pedoman BKD agar dapat digunakan di waktu yang akan datang. Hal yang patut dipikirkan lebih lanjut adalah e-BKD untuk dapat mempermudah penilaian kinerja dosen.

Dalam sambutannya, Dr. H. Muhammad Munadi, S.Pd., M.Pd mengungkapkan, bahwa civitas akademik di lingkup IAIN Surakarta harus fokus dalam mewujudkan tridharma perguruan tinggi. BKD merupakan salah satu alat yang dapat digunakan untuk tetap memantau kinerja dan produktifitas dosen dalam upaya mewujudkan tridharma perguruan tinggi yang berkualitas dan bermutu di lingkup IAIN Surakarta.

Acara Workshop Review Pedoman BKD ini dibagi menjadi dua sesi, yaitu melakukan reviu pedoman BKD dan yang kedua adalah materi workshop mengenai Finalisasi Pedoman BKD. Terdapat beberapa hal yang dibahas dalam sesi pertama reviu Pedoman BKD ini, seperti penambahan beberapa peraturan dalam BKD, perubahan angka kredit dengan tugas dosen untuk jabatan struktural, serta prosedur evaluasi BKD.

Pada sesi kedua, kegiatan Workshop Review Pedoman BKD diisi oleh narasumber dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Beliau adalah Dr. Dindin Jamaluddin dan dipandu langsung oleh Ketua LPM, Dr. Muh Nashirudin, M.A., M.Ag. Dr. Dindin Jamaluddin menjelaskan bahwa dalam hal penjaminan mutu, UIN Bandung memilih untuk berkiblat ke Universiti Malaya. Lembaga Penjaminan Mutu di perguruan tinggi kini dipandang sebagai driving force mulai dari input, process, hingga output. Oleh karena itu LPM setiap PTKI harus memiliki target yang terukur, misalnya menaikkan reputasi kampus hingga ke level ASEAN.

Dr. Dindin menyampaikan bahwa data kebutuhan kampus harus dicek terlebih dahulu berdasarkan hasil analisis lapangan, kemudian menyimpan data tersebut di LPM. Dr. Dindin pun menyarankan agar semua dosen baru diharapkan dapat mengetahui profil kampus tempat mereka bekerja. Saat ini, analisis yang digunakan bukan lagi SWOT, karena SWOT lebih berfokus kepada kelemahan dan gangguan. Namun analisis sebuah PTKI diharapkan sudah menggunakan SOAR yang lebih berfokus pada kekuatan dan peluang. Dr. Dindin melihat peluang IAIN Surakarta yang menjadi IAIN terfavorit dengan peminat terbanyak di kluster IAIN secara nasional.

Dr. Dindin menjelaskan prinsip pengembangan Pedoman BKD adalah sesuai dengan aturan dan kultur (unwritten law), serta dilakukan secara bertahap. Pengembangan Pedoman BKD harus disesuaikan dengan aturan perundang-undangan mengenai beban kerja dosen yang berlaku saat ini sehingga tidak melanggar peraturan perundang-undangan yang ada. Lebih lanjut, pengembangan Pedoman BKD juga harus disesuaikan dengan kultur atau tradisi di kampus setempat. Pengembangan Pedoman BKD juga harus dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan agar hal-hal yang belum tercakup dalam Pedoman BKD dapat terakomodir serta sesuai dengan perkembangan terkini atau up to date.

Dr. Dindin menyampaikan bahwa penetapan beban kerja dosen dengan tugas tambahan harus tepat. Jika terdapat kekeliruan, maka ini akan merugikan dosen yang bersangkutan. Lebih lanjut, Dr. Dindin menyarankan agar LPM IAIN Surakarta melakukan penelusuran terhadap jabatan-jabatan khusus yang patut untuk diberi nilai kredit seperti komite penjaminan mutu, gugus kendali mutu, dan tim adhoc pengembangan institut.

Acara selanjutnya adalah sesi tanya jawab dengan tiga orang penanya. Dr. Dindin memberikan closing statement bahwa masing-masing perguruan tinggi harus memiliki target profil lulusan yang jelas, memperbanyak dosen berkualifikasi akademik doktor, dan memperbanyak program studi berakreditasi A. Acara ini ditutup pukul 16.00 WIB dengan sesi foto bersama.